Sunday, June 24, 2012


Kota Cirebon sangat kaya dengan gedung-gedung tua peninggalan jaman kolonial Belanda. Ini bisa dimaklumi karena lokasi strategis Kota Cirebon sebagai kota pelabuhan sangatlah penting artinya bagi roda perekonomian pemerintah kolonial Belanda. Semua gedung tua itu mungkin saat ini sudah berstatus Cagar Budaya yang dilindungi Undang-Undang RI Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya yang menyebutkan bahwa Gedung Bank Indonesia Cabang Cirebon termasuk sebagai benda cagar budaya yang berada di Cirebon dan dilindungi keberadaannya.
            Salah satu gedung tua di Kota Corebon adalah Gedung Bank Indonesia Cabang Cirebon yang terletak di Jalan Yos Sudarso, Cangkol, Lemahwungkuk, Cirebon.
            
            Gedung Bank Indonesia Cabang Cirebon dulunya adalah Kantor De Javasche Bank (DJB) Cabang Cirebon yang dibuka pada 31 Juli 1866 dan baru beroperasi tanggal 6 Agustus 1866 dengan nama Agentschap van De Javasche Bank te Cheribon. Pembukaan kantor cabang ini berdasarkan surat keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda No. 63 tanggal 31 Juli 1866 yang merupakan kantor cabang kelima. Empat kantor cabang yang telah dibuka terlebih dahulu yaitu: Semarang, Surabaya, Padang, dan Makasar. P.J. Janssens, Notaris di Cirebon ditunjuk sebagai pimpinan Kantor Cabang Cirebon pertama. Setiap tahun, P.J. Janssens memperoleh imbalan 25 % dari laba bersih minimal f 1.200. Dan sebagai komisaris dan wakil komisaris kantor cabang tersebut diangkat J.W. Peter Pemimpin Cabang Factor der Nederlansche Handel Maatschappij (kini menjadi BEII sebelum bergabung dengan Bank Mandiri) dan P. van Waasdjik. Peletakan batu pertama pembangunan gedung Kantor Cabang Cirebon yang terletak di Kampong Tjangkol No.5, dilakukan pada tanggal 21 September 1919 oleh Jan Marianus Gerritzen (anak Direktur M.J. Gerritzen). Perencanaan arsitektur gedung kantor tersebut dilakukan oleh Biro Arsitek F.D. Cuypers & Hulswit. Gedung ini selesai dibangun dan digunakan pada tanggal 22 Maret 1921. Dari catatan sejarah gedung ini dari awal hingga sekarang yang menjadi gedung Bank Indonesia tetap pada lokasi tersebut dan merupakan satu-satunya gedung Kantor Bank Indonesia yang hanya mempunyai satu kubah, sehingga tampak lebih ramping.
            Pada Desember 1949, Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia sebagai bagian dari Republik Indonesia Serikat (RIS). Pada saat itu, sesuai dengan keputusan Konferensi Meja Bundar (KMB), fungsi bank sentral tetap dipercayakan kepada De Javasche Bank (DJB). Pemerintahan RIS tidak berlangsung lama, karena pada tanggal 17 Agustus 1950, pemerintah RIS dibubarkan dan Indonesia kembali ke bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pada saat itu, kedudukan DJB tetap sebagai bank sirkulasi. Berakhirnya kesepakatan KMB ternyata telah mengobarkan semangat kebangsaan yang terwujud melalui gerakan nasionalisasi perekonomian Indonesia. Nasionalisasi pertama dilaksanakan terhadap DJB sebagai bank sirkulasi yang mempunyai peranan penting dalam menggerakkan roda perekonomian Indonesia. Sejak berlakunya Undang-undang Pokok Bank Indonesia pada tanggal 1 Juli 1953, bangsa Indonesia telah memiliki sebuah lembaga bank sentral dengan nama Bank Indonesia.
            Gedung peninggalan Belanda ini memiliki banyak potensi yang dapat dijabarkan sebagai berikut:
1.      Frequency
Seperti yang telah disebutkan di atas, dari awal pembangunan sampai sekarang gedung ini selalu digunkan sebagai bank sentral atau sirkulasi walaupun dengan nama yang berubah – ubah. Dan sekarang sebagai Gedung Bank Indonesia Cabang Cirebon.
2.      Distribute
Gedung Bank Indonesia Cabang Cirebon merupakan salah satu gedung kuno yang berada di Cirebon. Gedung ini juga merupakan benda cagar budaya di Cirebon yang dilindungi oleh Undang – Undang dan termasuk salah satu icon pariwisata di kota Cirebon. Banyak para wisatawan yang datang untuk melihat kekaguman bangunan yang dibuat pada masa pemerintahan Hindia Belanda ini yang sampai sekarang tetap berdiri kokoh dan megah.
3.      Foundation
Untuk masalah kegunaan bangunan ini tidak pernah berganti sejak awal pembangunan sampai sekarang yaitu sebagai kantor bank sentral. Hanya masalah nama saja yang berganti. Hal itu wajar mengikuti pemerintahan yang berlaku saat itu. Karena gedung ini dibangunan pada masa pemerintahan Hindia Belanda dan diberi nama De Javasche Bank (DJB) untuk Cabang Cirebon yang merpakan bank sirkulasi atau sentral pemerintahan Hindia Belanda. Tetapi setelah Indonesia merdeka, bank sental tersebut berubah nama menjadi Bank Indonesia yang berlaku sejak 1 Juli 1953 sesuai dengan Undang-undang Pokok Bank Indonesia sehingga sekarang gedung tersebut menjadi Gedung Bank Indonesia Cabang Cirebon.


4.      Extention
Sejarah tokoh pada pembangunannya adalah Jan Marianus Gerritzen sebagai peletak batu pertama pembangunan gedung. Sedangkan untuk perencanaan arsitektur gedung kantor tersebut dilakukan oleh Biro Arsitek F.D. Cuypers & Hulswit. P.J. Janssens adalah pimpinan Kantor De Javasche Bank (DJB) Cabang Cirebon yang pertama. Adapun untuk komisaris dan wakil komisaris kantor cabang tersebut diangkat J.W. Peter dan P. van Waasdjik.
5.      Interiority
Pertama gedung ini adalah Kantor De Javasche Bank (DJB) Cabang Cirebon dibawah pemerintahan Hindia Belanda. Tetapi sekarang menjadi Gedung Bank Indonesia Cabang Cirebon dibawah pemerintahan Republik Indonesia.
6.      Accountability
Untuk keterangan atau dokumen sejarah gedung ini dapat kita temukan pada website mesuem Bank Indonesia. Pemerintah Daerah Cirebon juga mempunyai dokumennya karena gedung ini merupakan benda cagar budaya yang berada di Cirebon.
7.      Sustainability
Karena dari awal pembangunan sampai sekarang gedung ini dijadikan sebagai kantor bank pemerintahan Indonesia maka sustainbility akan bangunan ini terus berjalan karena digunakan secara terus – menerus.  

“ETHNOMATEMATIKA dan MATEMATIKA SEKOLAH”


Nama   : Riana Sinta Dewi
NIM    : 09313244022
“ETHNOMATEMATIKA dan MATEMATIKA SEKOLAH”
            Kita belajar matematika tidak hanya dari sekolah saja, tetapi juga dari lingkungan yang dipengaruhi budaya. Ethnomatematika pertama kali diperkenalkan oleh D’Ambrosio (1984) dalam artikelnya berjudul Ethnomathematics yang disampaikan pada pembukaan konferensi internasional pendidikan matematika di Adelaide Australia, dan dalam jurnal (D’Ambrosio, 1985) berjudul Ethnomathematics and iits place in the history and pedagogy of mathematics. Ethnomathematics diperkenalkan untuk menyebut bentuk matematika yang berbeda dengan matematika sekolah sebagai akibat pengaruh kegiatan yang ada di lingkungan yang dipengaruhi oleh budaya. Tokoh Ethnomatematika yang lainnya adalah Terenzinha Nunes terkenal dengan Street Math atau matematika jalanan.
     Kedua tokoh ini memperkenalkan bahwa ada bentuk lain dari matematika yang sangat berbeda dengan matematika di sekolah yang dikenal dengan istilah “ethnomathematics”. Ethnomatematika dianggap sebagai bentuk matematika yang diakibatkan kegiatan di lingkungan yang dikelilingi pengaruh budaya. Tujuan dari penggunaan matematika di lingkungan yang dipengaruhi budaya berbeda dengan matematika di kelas yang penekananya pada belajar untuk mengetahui sesuatu (learning to know about), belajar melakukan (learning to do), belajar menjiwai (learning to be), belajar bagaimana seharusnya belajar (learning to learn), dan belajar bersosialisasi sesama teman (learning to live together).
            Penggunaan matematika di luar sekolah jelas berkaitan dengan lingkungan, misalnya membangun rumah, menukar uang di Bank, menimbang hasil produksi, menjual dan membeli barang, dan sebagainya. Penerapan matematika seperti ini sering sangat berbeda dengan matematika yang dipelajari di sekolah. Dalam kehidupan sehari-hari di rumah, di dapur ibu-ibu sering mengukur isi dengan sendok atau cangkir, sedangkan di sekolah mengukur isi secara khusus dengan liter atau meter kubik. Di samping itu matematika dalam kehidupan sehari-hari sering dijumpai berbeda antara daerah satu dengan lainnya misalnya dalam sistem numerasi atau alat-alat hitung yang digunakan. Dan hal itu dikarenakan adanya perbedaan ethnik atau cuture antara daerah satu dengan daerah lainnya.
            Matematika sekolah sendiri berbeda dengan matematika “ilmu” karena matematika sekolah membelajarkan anak tentang matematika sehingga diperlukannya pembeda antara keduanya. Ebutt dan Striker (Marsigit, 2003) mendefinisikan matematika sekolah, sebagai berikut:
1.      Matematika sebagai kegiatan penelusuran pola dan hubungan
            Sehingga implikasi dari pandangan ini terhadap pembelajaran adalah : (1) memberi kesempatan siswa untuk melakukan kegiatan penemuan dan penyelidikan pola-pola untuk menentukan hubungan, (2) memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan percobaan denga berbagai cara, (3) mendorong siswa untuk menemukan adanya urutan, perbedaan, perbandingan, pengelompokan, dsb, (4) mendorong siswa menarik kesimpulan umum, (5) membantu siswa memahami dan menemukan hubungan antara pengertian satu dengan yang lainnya.
2.      Matematika sebagai kreativitas yang memerlukan imajinasi, intuisi dan penemuan
            Sehingga implikasi dari pandangan ini terhadap pembelajaran adalah : (1) mendorong inisiatif dan memberikan kesempatan berpikir berbeda, (2) mendorong rasa ingin tahu, keinginan bertanya, kemampuan menyanggah dan kemampuan memperkirakan, (3) menghargai penemuan yang diluar perkiraan sebagai hal bermanfaat daripada menganggapnya sebagai kesalahan, (4) mendorong siswa menemukan struktur dan desain matematika, (5) mendorong siswa menghargai penemuan siswa yang lainnya, (6) mendorong siswa berfikir refleksif, dan (7) tidak menyarankan hanya menggunakan satu metode saja.
3.      Matematika sebagai kegiatan pemecahan masalah (problem solving)
            Sehingga implikasi dari pandangan ini terhadap pembelajaran adalah : (1) menyediakan lingkungan belajar matematika yang merangsang timbulnya persoalan matematika, (2) membantu siswa memecahkan persoalan matematika menggunakan caranya sendiri, (3) membantu siswa mengetahui informasi yang diperlukan untuk memecahkan persoalan matematika, (4) mendorong siswa untuk berpikir logis, konsisten, sistematis dan mengembangkan sistem dokumentasi/catatan, (5) mengembangkan kemampuan dan ketrampilan untuk memecahkan persoalan, (6) membantu siswa mengetahui bagaimana dan kapan menggunakan berbagai alat peraga/media pendidikan matematika seperti : jangka, kalkulator, dsb.
4.      Matematika sebagai alat berkomunikasi
            Sehingga implikasi dari pandangan ini terhadap pembelajaran adalah : (1) mendorong siswa mengenal sifat matematika, (2) mendorong siswa membuat contoh sifat matematika, (3) mendorong siswa menjelaskan sifat matematika, (4) mendorong siswa memberikan alasan perlunya kegiatan matematika, (5) mendorong siswa membicarakan persoalan matematika, (6) mendorong siswa membaca dan menulis matematika, (7) menghargai bahasa ibu siswa dalam membicarakan matematika.
           
            Ebutt dan Striker juga mendefinisikan karakter subjek didik agar dapat mengembangkan potensi peserta didik secara optimal (Marsigit, 2003), yaitu :
1.      Murid akan mempelajari matematika jika mereka mempunyai motivasi
            Sehingga implikasi pandangan ini bagi usaha guru adalah : (1) menyediakan kegiatan yang menyenangkan, (2) memperhatikan keinginan siswa, (3) membangun pengertian melalui apa yang ketahui oleh siswa, (4) menciptakan suasana kelas yang mendukung kegiatan belajar, (5) memberikan kegiatan yang sesuai dengan tujuan pembelajaran, (6) memberikan kegiatan yang menantang, (7) memberikan kegiatan yang memberikan harapan keberhasilan, (8) menghargai setiap pencapaian siswa.
2.      Murid mempelajari matematika dengan caranya sendiri
            Sehingga implikasi pandangan ini adalah: (1) siswa belajar dengan cara yang berbeda dan dengan kecepatan yang berbeda, (2) tiap siswa memerlukan pengalaman tersendiri yang terhubung dengan pengalamannya di waktu lampau, (3) tiap siswa mempunyai latar belakang sosial-ekonomi-budaya yang berbeda. Oleh karena itu guru perlu: (1) mengetahui kelebihan dan kekurangan para siswanya, (2) merencanakan kegiatan yang sesuai dengan tingkat kemampuan siswa, (3) membangun pengetahuan dan ketrampilan siswa baik yang dia peroleh di sekolah maupun di rumah, (4) menggunakan catatan kemajuan siswa (assessment).
3.      Murid mempelajari matematika baik secara mandiri maupun melalui kerja sama dengan temannya
            Sehingga implikasi pandangan ini bagi usaha guru adalah: (1) memberikan kesempatan belajar dalam kelompok untuk melatih kerjasama, (2) memberikan kesempatan belajar secara klasikal untuk memberi kesempatan saling bertukar gagasan, (3) memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan kegiatannya secara mandiri, (4) melibatkan siswa dalam pengambilan keputusan tentang kegiatan yang akan dilakukannya, dan (5) mengajarkan bagaimana cara mempelajari matematika.


4.      Murid memerlukan konteks dan situasi yang berbeda-beda dalam mempelajari matematika
            Sehingga implikasi pandangan ini bagi usaha guru adalah: (1) menyediakan dan menggunakan berbagai alat peraga, (2) memberi kesempatan belajar matematika di berbagai tempat dan keadaan, (3) memberikan kesempatan menggunakan matematika untuk berbagai keperluan, (4) mengembangkan sikap menggunakan matematika sebagai alat untuk memecahkan problematika baik di sekolah maupun di rumah, (5) menghargai sumbangan tradisi, budaya dan seni dalam pengembangan matematika, dan (6) membantu siswa menilai sendiri kegiatan matematikanya.

            Dengan melihat karakteristik siswa belajar matematika kita dapat menghubungkan matematika sekolah dengan ethnomatematika. Karena ternyata dengan menghubungkan matematika dan kehidupan sehari – hari siswa (sebagai konteks) maka siswa akan lebih mudah menerima pembelajaran dan lebih termotivasi. Siswa juga dapat mempelajari matematika dengan caranya sendiri sehingga matematika akan berbekas dengan sendirinya karena matematika ada di lingkungan sekitarnya.
Referensi:
Douglass A. Groows, A.D, (1992).  Handbook of Research on Mathematics Teaching and Learning .New York tahun: Macmillan
Marsigit. 2003. Pembelajaran Matematika Berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi Di Smk. Disampaikan Pada Penataran Kurikulum Matematika Berbasis Kompetensi Untuk SMK
di BPG Yogyakarta.

“Ethnomathematics Across Multiculture And Its History”


Riana Sinta Dewi
09313244022
Reflection
“Ethnomathematics Across Multiculture And Its History”

            Ethnomathematics adalah sebuah studi yang mengkaji hubungan antara matematika dan budaya. Matematika sebagai ilmu dasar pun berkembang di seluruh negara. Setiap negara mempunyai budaya (culture) yang berbeda sehingga perkembangan matematika pun berbeda-beda karena dipengaruhi oleh culture yang ada.
            Pada perkuliahan Ethnomathematics tanggal 27 Maret 2012 kemarin, kita telah melihat video BBC The Story of Math yang menjelaskan tentang perkembangan matematika di beberapa negara. Tetapi pada video ini, Prof. Marcus Du Sautoy, yang merupakan Professor of Mathematics and Charles Simonyi Professor for the Public Understanding of Science at Oxford University,menjelaskan lebih rinci tentang The Greatest of East Mathematics.
            Pertama, Du Sautoy, memperkenalkan pembangan matematika di Cina. Jika kita berbicara matematika di Cina maka kita akan langsung teringat pada salah satu tujuh keajaiban dunia yang berada di Cina yaitu tembok besar Cina. Tembok besar Cina berdiri terbentang ribuan mil dan hampir membutuhkan waktu 2.000 tahun dalam pembuatannya. Dan ketika pembuatannya dimulai orang  Cina kuno pun menyadari bahwa mereka harus menghitung jarak, sudut elevasi, dan jumlah material yang dibutuhkan.
            Di Cina juga ditemukan sistem bilangan sederhana yang merupakan dasar dari cara menghitung di Barat sekarang ini. Jadi pada waktu itu ketika mereka melakukan penjumlahan maka mereka akan menggunakan batang bambu kecil. Batang ini disusun untuk mewakili angka 1-9. Kemudian batang bambu ditempatkan dalam kolom dimana setiap kolom memakili satuan, puluhan, ratusan, ribuan, dan seterusnya. Jadi kita dapat menuliskan 924 dengan meletakkan simbol 4 pada kolom satuan, simbol 2 pada kolom puluha, dan simbol 9 pada kolom ratusan. Dan inilah yang disebut sebagai sistem nilai desimal, dan itu sangat mirip dengan yang kita gunakan sekarang ini yakni menggunakan angka 1-9.
            Bahkan orang Cina kuno sudah melakukan perhitungan seperti kita sekarang ini lebih dari 1.000 tahun sebelum kita mengadopsinya di Barat. Tetapi mereka hanya menggunakannya ketika menghitung dengan batang bambu saja. Saat menuliskannya orang Cina kuno tidak menggunakan sistem nilai tempat. Sebaliknya mereka menggunakan metode yang jauh lebih sulit dan hal itu menjadi tidak begitu efisien. Hal itu dikarenakan mereka tidak mempunyai konsep nol sehinggan mereka tidak memiliki simbol untuk 0.
            Tetapi tidak adanya nol tidak menghentikan Cina kuno dari membuat langkah great mathematics. Bahkan, ada daya tarik yang besar dengan jumlah di Cina kuno.
Menurut legenda, penguasa pertama dari Cina, Kaisar Kuning, memiliki salah satu dewa yang membuat matematika di 2800 BC, percaya nomor yang diselenggarakan makna kosmik. Dan sampai hari ini, Cina masih percaya pada kekuatan mistis dari angka. Angka ganjil dianggap sebagai laki-laki, bahkan nomor, perempuan. Jumlah empat adalah untuk dihindari di semua biaya. Jumlah delapan membawa keberuntungan. Dan Cina kuno tertarik pada pola-pola dalam jumlah, mengembangkan versi mereka sendiri lebih awal sudoku atau yang disebut persegi ajaib.  Matematika di Cina juga memainkan peran penting dalam menjalankan pengadilan kaisar. Kalender dan pergerakan planet-planet adalah yang paling penting kepada kaisar, mempengaruhi semua keputusan, bahkan sampai ke cara zamannya direncanakan, sehingga para astronom menjadi anggota berharga dari istana kekaisaran, dan astronom selalu hebat matematika. Segala sesuatu dalam hidup kaisar diatur oleh kalender, dan ia berlari urusannya dengan presisi matematis. Kaisar bahkan mendapat penasihat matematika untuk datang dengan sebuah sistem untuk membantu dia tidur jalan melalui jumlah besar perempuan yang ada dalam harem-nya. Jangan pernah melewatkan satu trik, penasehat matematika memutuskan untuk dasar harem pada ide matematika disebut deret ukur.
             Pada abad 6, teorema sisa Cina telah digunakan dalam astronomi Cina kuno untuk mengukur pergerakan planet. Dan sampai hari ini masih memiliki manfaat praktis. Internet kriptografi mengkodekan nomor menggunakan matematika yang memiliki asal-usul dalam teorema sisa Cina.
            Pada abad ke-13, matematika sudah lama dimasukkan pada kurikulum, dengan lebih dari 30 sekolah matematika yang tersebar di seluruh negeri. Masa keemasan matematika China telah tiba. Dan matematika yang paling penting disebut Qin Jiushao. Legenda mengatakan bahwa Qin Jiushao sesuatu dari bajingan. Dia adalah seorang administrator kekaisaran fantastis korup yang saling silang Cina, meluncur dari satu posting yang lain. Berulang kali dipecat karena menggelapkan uang pemerintah, ia meracuni siapa saja yang mendapat di jalan. Qin Jiushao konon digambarkan sebagai sebagai kekerasan sebagai harimau atau serigala dan sebagai beracun seperti kalajengking atau ular berbisa sehingga, tidak mengherankan, dia membuat prajurit sengit. Selama sepuluh tahun, ia berjuang melawan Mongol menyerang, tetapi untuk banyak waktu yang ia mengeluh bahwa kehidupan militer membawanya jauh dari gairah sejati. Tidak, tidak korupsi, tapi matematika. Qin mulai mencoba untuk memecahkan persamaan yang tumbuh dari mencoba untuk mengukur dunia di sekitar kita.Persamaan kuadrat melibatkan angka yang persegi, atau ke kekuatan dua - mengatakan, lima kali lima. Para Mesopotamia kuno sudah menyadari bahwa persamaan ini sempurna untuk mengukur datar, dua dimensi bentuk, seperti Lapangan Tiananmen. Tapi Qin tertarik dalam persamaan yang lebih rumit - persamaan kubik.Ini melibatkan nomor yang potong dadu, atau dengan kekuatan tiga - mengatakan, lima kali lima kali lima, dan mereka cocok untuk menangkap bentuk tiga dimensi, seperti makam Ketua Mao. Qin menemukan cara untuk memecahkan persamaan kubik, dan ini adalah bagaimana ia bekerja. Katakanlah Qin ingin tahu dimensi yang tepat dari makam Ketua Mao. Dia tahu volume bangunan dan hubungan antara dimensi. Untuk mendapatkan jawabannya, Qin menggunakan apa yang dia tahu untuk menghasilkan persamaan kubik. Dia kemudian membuat sebuah pendidikan guess pada dimensi. Meskipun dia ditangkap proporsi yang baik dari makam, masih ada bit yang tersisa. Qin mengambil bit-bit dan menciptakan persamaan kubik baru. Dia sekarang dapat memperbaiki tebakan pertama dengan mencoba untuk menemukan solusi untuk persamaan kubik baru, dan sebagainya. Setiap kali ia melakukan hal ini, potongan-potongan dia pergi dengan semakin kecil dan lebih kecil dan dugaannya menjadi lebih baik dan lebih baik. Apa yang mencolok adalah bahwa metode Qin untuk memecahkan persamaan tidak ditemukan di Barat sampai abad ke-17, ketika Isaac Newton datang dengan metode pendekatan yang sangat mirip. Kekuatan dari teknik ini adalah dapat diterapkan untuk persamaan bahkan lebih rumit. Qin bahkan menggunakan teknik untuk memecahkan persamaan yang melibatkan angka sampai dengan kekuatan sepuluh. Ini adalah hal luar biasa - matematika yang sangat kompleks. Qin mungkin tahun depan waktu, tetapi ada masalah dengan tekniknya. Ini hanya memberinya solusi perkiraan. Yang mungkin cukup baik untuk seorang insinyur - bukan untuk ahli matematika.Matematika adalah ilmu pasti. Kami menyukai hal-hal harus tepat, dan Qin tidak bisa datang dengan rumus untuk memberikan solusi yang tepat untuk persamaan rumit. 
            China telah membuat lompatan besar matematika, tetapi terobosan berikutnya besar matematika itu terjadi di negara terbaring di barat daya Cina - negara yang memiliki tradisi kaya matematika yang akan mengubah wajah matematika untuk selamanya.
            Hadiah pertama matematika India yang besar terletak pada dunia nomor. Seperti Cina, India telah menemukan manfaat matematika dari sistem tempat-nilai desimal dan telah menggunakannya pada pertengahan abad ke-3.Sudah disarankan bahwa orang India belajar sistem dari pedagang Cina bepergian di India dengan batang mereka menghitung, atau mereka mungkin hanya telah sengaja menemukan sendiri.Ini semua waktu seperti lama bahwa itu diselimuti misteri. Kita mungkin tidak tahu bagaimana orang Indian datang dengan sistem nomor mereka, tetapi kita tahu bahwa mereka halus dan menyempurnakannya, menciptakan leluhur untuk sembilan angka digunakan di dunia sekarang.Banyak sistem peringkat India dihitung sebagai salah satu inovasi intelektual terbesar sepanjang masa, berkembang menjadi hal yang paling dekat kita bisa menyebut bahasa universal. Tapi ada satu nomor yang hilang, dan itu adalah India yang akan memperkenalkan kepada dunia. Rekaman paling awal dari jumlah ini berasal dari abad ke-9, meskipun itu mungkin dalam penggunaan praktis selama berabad-abad sebelumnya. Ini angka baru yang aneh yang terukir di dinding candi kecil di benteng dari Gwalior di India tengah. Jadi di sini kita berada di salah satu situs suci di dunia matematika, dan apa yang saya cari adalah dalam prasasti di dinding.
Yang hebat dari matematika inadia adalah mereka telah menemukan 0. Orang-orang India berubah dari nol placeholder hanya ke nomor yang madesense dalam sendiri kanan its a angka untuk perhitungan, untuk penyelidikan. Ini lompatan konseptual yang cemerlang akan merevolusi matematika. Sekarang, dengan hanya sepuluh digit - nol sampai sembilan - itu tiba-tiba mungkin untuk menangkap nomor astronomis besar dalam cara yang sangat efisien.

            Pada abad ke-7, dan Brahmagupta matematikawan brilian India membuktikan beberapa sifat penting dari nol. Brahmagupta aturan tentang perhitungan dengan nol diajarkan di sekolah-sekolah di seluruh dunia sampai hari ini. 1+0 =1. 1-0 =1. 1 x 0 = 0 . Tapi Brahmagupta datang kesukaran ketika ia mencoba untuk melakukan 1/0.
Ini akan membutuhkan sebuah konsep matematika baru, yaitu tak terbatas, untuk memahami membagi dengan nol, dan terobosan itu dibuat oleh seorang ahli matematika abad ke-12 India disebut Bhaskara II, dan bekerja seperti ini : “ Jika saya mengambil buah dan saya membaginya menjadi dua bagian, saya mendapatkan dua potong, jadi satu dibagi dengan setengah adalah dua. Jika saya membaginya menjadi tiga, saya mendapatkan tiga bagian. Jadi ketika saya membaginya menjadi pecahan yang lebih kecil dan lebih kecil, saya mendapatkan potongan lebih dan lebih, sehingga pada akhirnya, ketika saya bagi dengan sepotong yang dari ukuran nol, saya akan memiliki potongan-potongan tak terhingga banyaknya”. Jadi untuk Bhaskara, satu dibagi dengan nol adalah tak terhingga. 
            Tetapi India akan melangkah lebih jauh dalam perhitungan mereka dengan nol. Misalnya, jika Anda mengambil tiga dari tiga dan mendapatkan nol, apa yang terjadi ketika Anda mengambil empat dari tiga? Sepertinya Anda tidak memiliki apapun, tetapi orang India mengakui bahwa ini adalah semacam baru ,angka negatif. Orang-orang Indian menyebutnya sebagai "hutang", karena mereka memecahkan persamaan seperti, "Jika saya memiliki tiga takaran bahan dan mengambil empat pergi," berapa banyak yang telah saya kiri "ini mungkin tampak aneh dan tidak praktis?, Tapi itulah keindahan matematika India. Kemampuan mereka untuk datang dengan angka negatif dan nol itu karena mereka pikir angka sebagai entitas abstrak. Mereka tidak hanya untuk menghitung dan mengukur potong kain. Mereka memiliki kehidupan mereka sendiri, mengambang bebas dari dunia nyata. Dan ini menyebabkan ledakan ide-ide matematika.
            Pendekatan abstrak Indian 'untuk matematika segera mengungkapkan sisi baru untuk masalah bagaimana menyelesaikan persamaan kuadrat. Itulah persamaan termasuk nomor ke kekuatan dua. Brahmagupta dengan pemahaman tentang angka negatif memungkinkan dia untuk melihat bahwa persamaan kuadrat selalu memiliki dua solusi,dan  salah satunya bisa jadi negatif. Brahmagupta bahkan melangkah lebih jauh dengan memecahkan persamaan kuadrat dengan dua variabel, pertanyaan yang tidak akan dianggap di Barat sampai 1657, ketika Fermat matematikawan Prancis ditantang rekan-rekannya dengan masalah yang sama. Sedikit ia tahu bahwa mereka telah dipukuli sampai solusi dengan Brahmagupta 1.000 tahun sebelumnya.Brahmagupta mulai menemukan cara memecahkan persamaan abstrak, tetapi mengherankan, ia juga mengembangkan bahasa matematika baru untuk mengekspresikan abstraksi itu. Brahmagupta sedang bereksperimen dengan cara-cara penulisan persamaan ke bawah, dengan menggunakan inisial nama-nama warna yang berbeda untuk mewakili tidak diketahui dalam persamaan itu.Sebuah bahasa matematika baru datang untuk hidup, yang akhirnya akan mengarah pada x dan y itu yang mengisi jurnal matematika saat ini. Tapi itu bukan hanya notasi baru yang sedang dikembangkan.
             Matematikawan India bertanggung jawab membuat penemuan baru yang mendasar dalam teori trigonometri. Kekuatan trigonometri adalah bahwa ia bertindak seperti kamus, menerjemahkan geometri menjadi angka dan punggung. Meskipun pertama kali dikembangkan oleh orang Yunani kuno, berada di tangan para ahli matematika India bahwa subjek benar-benar berkembang. Pada jantungnya terletak studi tentang segitiga siku-siku. Dalam trigonometri, Anda dapat menggunakan sudut ini di sini untuk menemukan rasio dari sisi berlawanan dengan sisi terpanjang. Ada fungsi disebut fungsi sinus yang, ketika Anda masukan sudut, output rasio. Jadi misalnya dalam segitiga ini, sudut sekitar 30 derajat, sehingga output dari fungsi sinus adalah rasio satu sampai dua, mengatakan bahwa sisi ini adalah setengah panjang sisi terpanjang. Fungsi sinus memungkinkan Anda untuk menghitung jarak saat Anda tidak dapat membuat pengukuran yang akurat. Sampai hari ini, ini digunakan dalam arsitektur dan rekayasa. Orang Indian menggunakannya untuk survei tanah di sekitar mereka, mengarungi lautan dan, akhirnya, memetakan kedalaman ruang itu sendiri. Ini merupakan pusat karya observatorium, seperti ini di Delhi, di mana para astronom akan mempelajari bintang-bintang. Para astronom India bisa menggunakan trigonometri untuk bekerja di luar jarak relatif antara Bumi dan bulan dan Bumi dan matahari. Anda hanya dapat membuat perhitungan saat bulan setengah penuh, karena itulah ketika itu tepat di seberang matahari, sehingga matahari, bulan dan Bumi membuat segitiga siku-siku. Sekarang, orang Indian bisa mengukur bahwa sudut antara matahari dan observatorium adalah satu-tujuh derajat. Fungsi sinus satu-tujuh derajat memberi saya rasio 400:1. Ini berarti matahari adalah 400 kali lebih jauh dari Bumi dibanding bulan itu. Jadi dengan menggunakan trigonometri, para ahli matematika India dapat mengeksplorasi tata surya tanpa harus meninggalkan permukaan Bumi.
            Orang Yunani kuno yang pertama untuk mengeksplorasi fungsi sinus, daftar nilai yang tepat untuk beberapa sudut, tetapi mereka tidak bisa menghitung sinus dari setiap sudut. Orang-orang Indian adalah untuk pergi lebih jauh, pengaturan diri mereka tugas besar.
            Pencarian sedang mencari cara untuk menghitung fungsi sinus dari sudut manapun Anda mungkin diberikan. Terobosan dalam pencarian untuk fungsi sinus dari setiap sudut akan dibuat di sini di Kerala di India selatan. Pada abad ke-15, ini bagian dari negara ini menjadi rumah bagi salah satu sekolah paling cemerlang yang hebat matematika pernah bekerja. Pemimpin mereka disebut Madhava, dan ia membuat beberapa penemuan matematika luar biasa. Kunci keberhasilan Madhava adalah konsep yang tak terbatas. Madhava menemukan bahwa Anda bisa menambahkan hal-hal jauh lebih banyak dengan efek dramatis. Budaya sebelumnya telah saraf ini jumlah tak terbatas, tapi Madhava senang bermain dengan mereka. Sebagai contoh, berikut adalah cara seseorang dapat dibuat dengan menambahkan fraksi jauh lebih banyak. Aku mau dari nol ke satu di perahu saya, tapi saya dapat membagi perjalanan saya menjadi pecahan tak terhingga banyaknya. Jadi saya bisa mendapatkan setengah, maka saya dapat berlayar di kuartal, maka kedelapan, maka 1/16, dan sebagainya. Semakin kecil pecahan aku bergerak, semakin dekat ke yang saya dapatkan, tapi aku hanya akan sampai di sana setelah saya telah menambahkan sampai jauh pecahan banyak. Secara fisik dan filosofis, tampaknya lebih merupakan tantangan untuk menambahkan hal-hal tak terhingga banyaknya, tapi kekuatan matematika adalah untuk memahami hal yang mustahil. Dengan memproduksi bahasa untuk mengartikulasikan dan memanipulasi tak terbatas, anda dapat membuktikan bahwa setelah langkah jauh lebih banyak Anda akan mencapai tujuan Anda. Jumlah tak terbatas semacam ini disebut seri terbatas, dan Madhava melakukan banyak penelitian tentang hubungan antara seri ini dan trigonometri. Pertama, ia menyadari bahwa ia dapat menggunakan prinsip yang sama menambahkan fraksi jauh lebih banyak untuk menangkap salah satu nomor yang paling penting dalam matematika - pi. Pi adalah rasio keliling lingkaran terhadap diameternya. Ini adalah nomor yang muncul dalam segala macam matematika, tetapi sangat berguna untuk insinyur, karena setiap pengukuran yang melibatkan kurva segera memerlukan pi. Jadi selama berabad-abad, matematikawan mencari nilai yang tepat untuk pi.Saat itu di 6 abad India bahwa Aryabhata matematika memberikan perkiraan yang sangat akurat untuk pi - yaitu 3,1416. Dia melanjutkan untuk menggunakan ini untuk membuat pengukuran keliling bumi, dan ia mendapatkannya sebagai 24.835 mil, yang luar biasa hanya 70 mil jauhnya dari nilai yang sebenarnya. Tapi itu di Kerala di abad 15 yang Madhava menyadari ia dapat menggunakan terhingga untuk mendapatkan formula yang tepat untuk pi.Dengan berturut-turut menambahkan dan mengurangkan pecahan yang berbeda, Madhava bisa mengasah dalam formula yang tepat untuk pi. Pertama, ia pindah empat langkah up nomor baris. Yang membawanya melewati jalan pi. Jadi lain ia mengambil empat per tiga langkah, atau langkah-langkah satu-dan-satu-ketiga, kembali.Sekarang dia datang terlalu jauh ke arah lain. Jadi dia menuju ke depan empat perlima dari langkah.Setiap kali, ia berganti-ganti antara empat dibagi dengan jumlah ganjil berikutnya. Dia berzigzag naik turun nomor baris, semakin dekat dan lebih dekat dengan pi. Ia menemukan bahwa jika Anda pergi melalui semua angka ganjil, jauh lebih banyak dari mereka, Anda akan memukul pi persis. 
            Sedangkan untuk di dunia barat, kita dapat melihat matematika pada menara pisa di Italia.

Referensi:
Video BBC The Story of Math (Prof. Marcus Du Sautoy) yang ditayangkan pada perkuliahan Ethnomathematics tanggal 27 Maret 2012.

The Role Of Ethnomathematics In The Development Of Teaching And Learning Mathematics


Riana Sinta Dewi
09313244022

The Role Of Ethnomathematics In The Development Of Teaching And Learning Mathematics
Dr. Marsigit, M.A

            Pure mathematics and school mathematics is different. According to Jaworski (1994: 83) teaches mathematics is not easy because we still see students who have difficulties in learning mathematics. While on the other hand, we find the fact that it is not easy for educators to change the style of learning (Dean, 1982: 32).While we are required, as educators, to constantly adjust our teaching methods in accordance with the demands of changing times (Alexander, 1994: 20). So to understanding school mathematics, we must to know the nature of school mathematics and the nature of students’ learn mathematics firstly.
The Nature of School Mathematics
Cocrorf in Marsigit (2003) Ebutt and Straker define the nature of school mathematics like below:
1.      Mathematics as a searching pattern and relationship, some aspects that include in here are give a chance for students to do a discovery activities and find the patterns to determine the relations; give a chance for students to try by their own way; support them to fins the arrange, difference, comparration, group, etc; support them to make a general conclusion; help them to understand and find the relationship between the meaning one others.
2.      Mathematics as a creativity that need imagination, intuition, and discovery. Some aspects that include here are support students creativity and give a chance to different thinking, support their feel to like to know, support their estimate and their discovery,etc
3.      Mathematics is problem solving, some aspect that include here are give a space to learn mathematics to guide a mathematics problems, help students solve mathematics problems by their own way, help students to get some informations that needed to solve mathematical problems, etc
4.      Mathematics as a communication tool, some aspects that include here are support students to know about mathematics, support students to make an example about mathematical properties, support students to give a reason why we need mathematics, etc.
The Nature of Students’ Learn Mathematics
Cocrof in Marsigit (2003) Ebbutt and Straker (1995: 10-63) gives the assumptions about the characteristics of learners as follows:
1.      Students will learn mathematics if they have the motivation.
The implications of this view for teachers' effort are: (1) provide fun activities, (2) pay attention to the desire of students, (3) develop an understanding through what who know the students, (4) create a classroom atmosphere that supports learning activities, (5) provide activities that correspond with learning objectives, (6) provide activities that challenge, (7) provide activities that give hope of success, (8) respect achievement of each student.
2.      Students learn mathematics in its own way.
The implications of this view are: (1) students learn in different ways and with different speeds, (2) each student requires a special experience that is connected with experience in the past, (3) each student has a socio-economic background- different cultures. Therefore, teachers need to: (1) know the advantages and shortage of students, (2) planning activities appropriate to the level of ability students, (3) build the knowledge and skills that he obtained a good student at school and at home, (4) using the records of student progress (assessment).
3.      Students learn mathematics either independently or through collaboration with friends.
The implications of this view for  teachers effort are: (1) provide learning opportunities into train a group of co-operation, (2) provides an opportunity to learn the classical provide an opportunity to exchange ideas, (3) provide an opportunity for students to conduct its activities independently, (4) involving students in decision making on activities to be done, and (5) teach how to learn mathematics.


4.      Students need context and the different situations in studying mathematics.
The implications of this view for  teachers effort are: (1) provide and use a variety of props, (2) provide opportunities to learn mathematics in a variety of places and circumstances, (3) provide opportunities to use mathematics to a variety of purposes, (4) develop an attitude of using mathematics as a tool to solve the problems both at school and at home, (5) appreciate the contribution of tradition, culture and art in mathematical development, and (6) help students assess their own mathematical activity.
           
            We as a society to live in a culture. So, it can be easier to teacher to introducting mathematics to students with use the basical knowledge of students. For example, use the culture of environment as a context.  Or we known as ethnomathematics.
            Ethnomathematics with ethnograph as the methode expresses the relationship between culture and mathematics. and because mathematics in here is school mathematics so must understanding the nature of school mathematics and the nature of students’ learn mathematics. and with anthropology and society psychology we can development the society into archaic – tribal – traditional – feodal – modern – post modern. Because of that we can develop mathematics as context math – concrete model – formal model – formal math. There are 2 motivation of this system there are instrinsic motivation and exstrinsic motivation with teaching learning process how to interact subjective mathematics and objecteive mathematics. and the goal is how to enculture mathematics with logic and experience as the source.
            I think contructivism theory is suitable answer. The paradigm is how to make student own knowledge so with logic and experience we can do it. Teacher can use culture (ethnomathemtics) as a context and basic knowledge of students that use to more explore.

Reference:
Marsigit. 2004. Inovasi Pembelajaran Untuk Meningkatkan Gairah Siswa Dalam Belajar. Yogyakarta: FMIPA UNY