Sunday, June 24, 2012

" Ethnomatematika dan Pendidikan Karakter dalam Pendidikan Matematika"


Nama   : Riana Sinta Dewi
NIM    : 09313244022

" Ethnomatematika dan Pendidikan Karakter dalam Pendidikan Matematika"

            Seiring berjalannya waktu, kita telah memasuki era globalisasi seperti saat ini dimana jarak bukanlah menjadi sebuah kendala lagi. Perkembangan dan perubahan pada berbagai aspek terjadi begitu cepat, termasuk pada aspek ilmu pengetahuan, teknologi, maupun sosial budaya. Ilmu pengetahuan
            Pengertian karakter menurut Pusat Bahasa Depdiknas adalah “bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak”. Adapun berkarakter adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak”. Menurut Tadkiroatun Musfiroh (UNY, 2008), karakter mengacu kepada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills). Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti “to mark” atau menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku, sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan perilaku jelek lainnya dikatakan orang berkarakter jelek. Sebaliknya, orang yang perilakunya sesuai dengan kaidah moral disebut dengan berkarakter mulia . 
            Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.
            Adapun jika dilihat dari sejarah berdirinya bangsa Indonesia maka pilar sejarah terbentuknya bangsa Indonesia adalah
1.      Kekuasaan, hal itu terlihat dari banyaknya kerajaan yang berdiri di Nusantara ini pada jamannya. Dan sekarang kekuasaan tersebut identik dengan partai politik.
2.      Perdagangan, Indonesia sudah menjadi bangsa yang kaya akan perdagangan sejak dahulu kala. Dan sekarang hal itu mengindikasikan kekuatan ekonomi.
3.      Teknologi yang merupakan kekuatan industri.
            Pendidikan yang ada di Indonesia juga ditentukan oleh ketiga unsur tersebut yaitu kekuasaan, ekonomi, dan teknologi.
            Sedangkan menurut Pak Marsigit dalam perkuliahannya, karakter adalah dari siapa dan untuk siapa.
            Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil.  Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (stakeholders) harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, kualitas hubungan, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan ethos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah.[Akhmad Sudrajat.2010]
            Menurut David Elkind & Freddy Sweet Ph.D. (2004), pendidikan karakter dimaknai sebagai berikut: “character education is the deliberate effort to help people understand, care about, and act upon core ethical values. When we think about the kind of character we want for our children, it is clear that we want them to be able to judge what is right, care deeply about what is right, and then do what they believe to be right, even in the face of pressure from without and temptation from within”. 
            Pendidikan karakter dapat diintegrasikan dalam pembelajaran pada setiap mata pelajaran. Materi pembelajaran yang berkaitan dengan norma atau nilai-nilai pada setiap mata pelajaran perlu dikembangkan, dieksplisitkan, dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pembelajaran nilai-nilai karakter tidak hanya pada tataran kognitif, tetapi menyentuh pada internalisasi, dan pengamalan nyata dalam kehidupan peserta didik sehari-hari di masyarakat. [Akhmad Sudrajat.2010]
            Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai standar kompetensi lulusan.
            Oleh karena itu pendidikan karakter juga dibutuhkan dalam pendidikan matematika. Ethnomatematika yang merupakan sebuah studi yang mengkaji hubungan matematika dan ethnic (budaya). Dan sebagaimana kita ketahui bahwa banyak sekali nilai – nilai budaya bangsa yang syarat akan pendidikan karakter yang baik seperti gotong royong. Ethnomatematika sendiri adalah sebuah karakter. Hal itu terlihat dari pembagian matematika. Ada yang bebas value atau lebih dikenal dengan absolut mathematics , pure mathematics, atau formal mathematics. Dan ada matematika yang mempunyai value, yang sesuai dengan teori socio-constructivism Paul Ernest atau sekarang dikenal dengan matematika sekolah.
            Ethnomatematika dapat diintegrasikan pada semua subjek dan dengan berbagai cara. Termasuk dan geometri dan aljabar apad tingkat dasar. Kita dapat mengimplementasikan ethnomatematika pada pembelajaran seperti pada RPP, students worksheet, alat peraga yang mempunyai unsur ethnomatematika.
            Demikian juga dengan pendidikan karakter. Kita dapat mengintegrasikan pendidikan karakter pada semua subjek dan dengan berbagai cara. Kita dapat memasukkan pendidikan karakter dalam proses pembelajaran seperti bekerja kelompok atau diskusi, presentasi dll. Oleh karena itu dalam pendidikan karakter dapat terlihat pada RPP yang dipergunakan.
            Berikut ini contoh RPP yang memuat unsur ethnomatematika dan pendidikan karakter di dalamnya.
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
Nama Sekolah             : SMP Negeri 1 Godean
Mata Pelajaran             : Matematika
Kelas, Semester           : VIII, 2
Alokasi Waktu             : 20 menit

A.    Standar Kompetensi :
Memahami sifat-sifat kubus, balok, prisma, limas, dan bagian-bagiannya, serta menentukan ukurannya.

B.     Kompetensi Dasar     :
Menghitung luas permukaan dan volume kubus, balok, prisma dan limas.

C.    Indikator                    :
1.      Kognitif
Siswa dapat menentukan luas permukaan kubus.
2.      Afektif
Karakter yang diharapkan:
-          Dapat dipercaya
-          Menghargai
-          Tanggung jawab individu
-          Tanggung jawab sosial
-          Adil
-          Peduli
3.      Keterampilan Sosial
Karakter yang diharapkan:
-          Bertanya
-          Memberikan ide atau pendapat
-          Menjadi pendengar yang baik
-          Kerjasama

D.    Tujuan Pembelajaran:
1.      Kognitif
Siswa dapat menemukan rumus luas permukaan kubus berdasarkan etnik, historical, dan kebudayaan di Candi Borobudur dengan alas Candi Borobudur yang berbentuk kubus sebagai modelnya.
2.      Afektif
Proses belajar mengajar berpusat pada peserta didik, dan peserta didik diberi kesempatan melakukan penilaian diri terhadap kesadaran dalam menunjukkan karakter.
·         Dalam proses pembelajaran peserta didik berlatih karakter dapat dipercaya ,diantaranya : jujur, mampu mengikuti komitmen, melaksanakan tugas yang diberikan, menjadi teman yang baik dan membantu orang lain.
·         Dalam proses pembelajaran peserta didik berlatih karakter menghargai , diantaranya: peserta didik memperlakukan teman/guru dengan baik, sopan dan hormat, peka terhadap perasaan orang lain, tidak pernah menghina atau mempermainkan teman/guru, tidak pernah mempermalukan teman/guru.
·         Dalam proses pembelajaran peserta didik berlatih karakter tanggung jawab individu, diantaranya: mengerjakan tugas yang diberikan, dapat dipercaya/diandalkan, tidak pernah membuat alasan atau menyalahkan orang lain atas perbuatannya.
·         Dalam proses pembelajaran peserta didik berlatih karakter tanggung jawab sosial, diantaranya: mengerjakan tugas kelompok untuk kepentingan bersama, secara suka rela membantu teman/guru. 
·         Dalam proses pembelajaran peserta didik berlatih karakter adil, diantaranya: tidak pernah curang, tidak menyontek hasil kerja peserta didik/kelompok lain, bermain/berbuat berdasarkan aturan, tidak pernah mengambil keuntungan dari yang lain.
·         Dalam proses pembelajaran peserta didik berlatih karakter peduli , diantaranya: peka terhadap perasaan orang lain, mencoba untuk membantu teman/guru yang membutuhkan.
3.              Keterampilan Sosial
Proses belajar mengajar berpusat pada peserta didik, dan peserta didik diberi kesempatan melakukan penilaian diri terhadap kesadaran dalam menunjukkan karakter.
§   Dalam proses pembelajaran di kelas, diskusi kelompok/kelas, peserta didik berani bertanya apabila ada hal yang kurang dipahami.
§   Dalam diskusi kelompok/kelas, peserta didik aktif  memberikan ide atau pendapat .
§   Dalam proses pembelajaran di kelas, peserta didik dapat menjadi pendengar yang baik.
§   Dalam diskusi kelompok, peserta didik  dapat bekerja sama dalam menyelesaikan tugas kelompok.

E.     Materi Pembelajaran
            Candi Borobudur secara keseluruhan terlihat sangat istimewa, baik dalam hal ukuran, tehnik penyusunan batu, maupun dari segi pemahatan relief dalam hal kwalitas maupun kwantitas, pemilihan jenis cerita, arca-arcanya dan sebagainya. Candi berdenah bujur sangkar dan secara keseluruhan berukuran 123 x 123 meter, tinggi asli (dengan chattra, yaitu bagian atas chaitya puncak) 42 m, tanpa chattra menjadi 31 meter.

            Candi terdiri atas 10 tingkatan, 6 tingkat di bawah berdenah bujur sangkar dengan catatan ukuran makin ke atas makin kecil, dan tingkat 7,8,9, berdenah hampir bundar, diakhiri oleh stupa puncak yang besar. Secara keseluruhan candi Borobudur berbentuk stupa, tetapi mempunyai struktur berundak teras.
            Candi borobur pada bagian bawah jika dilihat dari atas berbentuk seperti kubus dengan catatan tidak mengerucut.
  

Luas permukaan kubus.
Luas permukaan (L) kubus dengan panjang rusuk s adalah L= 6s2


F.     Metode Pembelajaran
Pendekatan materi      : Kontekstual
Metode pembelajaran  : LKS, diskusi, tanya jawab

G.    Media Pembelajaran
Papan tulis, contoh benda yang berbentuk kubus dan balok.

H.    Kegiatan Pembelajaran
a.       Kegiatan awal (5 menit)
·         Membuka pelajaran dengan salam dan berdoa bersama.
Apersepsi:
·         Siswa memberikan contoh-contoh benda riil dan ethnik yang ada di sekitar lingkungan sehari-hari siswa yang berkaitan dengan luas permukaan kubus.

b.      Kegiatan inti (15 menit)
·         Siswa membentuk beberapa kelompok, dimana setiap kelompok terdiri dari 3 orang.
·         Siswa berkumpul dengan kelompoknya dan mendiskusikan konstruksi dasar Candi Borobudur.
·         Setelah siswa menemukan konstruksi dasar Candi Borobudur, siswa mendiskusikan cara menemukan luas permukaannya.
·         Siswa menulis hasil diskusinya dalam kertas besar yang diberikan guru untuk mempresentasikan hasil diskusinya.
·         Kelompok yang presentasi dipilih secara acak melalui undian.

c.       Kegiatan penutup (5 menit)
·         Siswa membuat kesimpulan tentang luas permukaan kubus dan aplikasinya dalam konstruksi dasar Candi Borobudur.
·         Menutup pembelajaran dengan berdoa.
I.       Sumber
-          Endah Budi Rahayu, Dkk. 2008. Contextual Teaching and Leraning, Matematika Sekolah Menengah Pertama Kelas VII . Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional. ( hal 172 – hal 203)
-          Dewi Nuharini, Tri Wahyuni. 2008. Matematika, Konsep dan Aplikasinya 2. Jakarta : Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional. ( hal 208 – hal 222 )
-          Nuniek Avianti Agus. 2008. Mudah Belajar Matematika. Jakarta : Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional. ( hal 183 – hal 1
J.      Penilaian
1.      Teknik                         : tes tulis dan lisan
2.      Bentuk instrument       : Presentasi kelompok

REFERENSI:
Akhmad Sudrajat. 2010. Tentang Pendidikan Karakter  dalam http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2010/08/20/pendidikan-karakter-di-smp/ diakses tanggal 24 Juni 2012.
Timothy Wibowo dalam http://www.pendidikankarakter.com/kekuatan-karakter-bagi-masa-depan-anak/ diakses tanggal 24 Juni 2012.
_.2011.Artikel Pendidikan : Konsep Pendidikan Karakter.dalam http://www.majalahpendidikan.com/2011/05/artikel-pendidikan-konsep-pendidikan.html diakses tanggal 24 Juni 2012.
Catatan perkuliahan Ethnomathematics tanggal 29 Mei 2012 yang disampaikan oleh Dr.Marsigit,MA.

             

“Peran Ethnomatematika dalam Pembelajaran Matematika”


Nama   : Riana Sinta Dewi
NIM    : 09313244022

“Peran Ethnomatematika dalam Pembelajaran Matematika”

            In 1985 Ubiratan D'Ambrosio defined Ethnomathemtics as the maths practised among cultural groups such as national-tribal societies, labour groups, children of a certain age bracket, professional classes and so on".

            In First International Congress on Ethnomathematics will be held in Granada (Spain) from 2 to 5 September of 1998 with the article Ethnomathematics: an absolutely essential key for Mathematics Education. Of course, "the way of doing" mathematics, which means the way of teaching and learning it, cannot be reduced unique and universal at least in the very early elementary levels of learning mathematics. In this stage there is no difference between "using mathematics" and "doing mathematics", infact what we do in the early elementary levels of mathematical education is to explain and to understand in a mathematical language those simple operations which we use to manage the every-day-live: counting, estimating, calculating etc. Needless to say how native algorithms to perform these operations are culturally-dependent and, therefore, are different. That is why the (Ethno) -Mathematics becomes absolutely essential for mathematics education.      

            We can easily find many reasons to integrate the common event of mathematics in the curriculum, therefore we can conclude that it is with significant value and practical implications in respect to the cultural differences between different races and we can explore their mathematical thinking.

            China has a long history of culture and tradition from which we can find lots of contents to integrate into the mathematics curriculum. We can also provide good materials for mathematics curriculum after the mathematical knowledge and cultural connotations involved are carefully excavated (Zhang, 2007). Because of the different historical origins of different national cultures, the methods to estimate the endless roots in different cultures are quite flexible. Trying to introduce and comment on these diverse solving methods in the history from the viewpoint of multicultural mathematics, we can enrich the contents, increase the fun and reflect diversity while preparing the new mathematics textbooks to enhance students’ desire to explore the mathematical theories involved.

            What’s more, mathematics in different cultures can also be shown to students to give them a rich background knowledge, which will help them share the results created by people of all ethnic groups, admire mathematical achievements with different mathematics cultural tradition and understand how calculating tools influence mathematics and people’s daily life. Then the aims of mathematics education under the multicultural viewpoint may be finally reached (Fu & Zhang, 2005).

            Ethnomathematics can be integrated in any subject and in any way. Geometry, Algebra and even in the elementary. We can implementation ethnomathematics in teaching learning for example we can make lesson plan, student worksheet, and teaching aids based on ethnomathematics. Here there is example of lesson plan based on ethnomathematics in Indonesian.
           
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

Nama Sekolah             : SMP Negeri 1 Godean
Mata Pelajaran             : Matematika
Kelas, Semester           : VIII, 2
Alokasi Waktu             : 20 menit

A.    Standar Kompetensi :
Memahami sifat-sifat kubus, balok, prisma, limas, dan bagian-bagiannya, serta menentukan ukurannya.

B.     Kompetensi Dasar     :
Menghitung luas permukaan dan volume kubus, balok, prisma dan limas.

C.    Indikator                    :
Menentukan luas permukaan dan kubus.

D.    Tujuan Pembelajaran:
Siswa dapat menemukan rumus luas permukaan kubus berdasarkan etnik, historical, dan kebudayaan di Candi Borobudur dengan alas Candi Borobudur yang berbentuk kubus sebagai modelnya.

E.     Materi Pembelajaran
            Candi Borobudur secara keseluruhan terlihat sangat istimewa, baik dalam hal ukuran, tehnik penyusunan batu, maupun dari segi pemahatan relief dalam hal kwalitas maupun kwantitas, pemilihan jenis cerita, arca-arcanya dan sebagainya. Candi berdenah bujur sangkar dan secara keseluruhan berukuran 123 x 123 meter, tinggi asli (dengan chattra, yaitu bagian atas chaitya puncak) 42 m, tanpa chattra menjadi 31 meter.

            Candi terdiri atas 10 tingkatan, 6 tingkat di bawah berdenah bujur sangkar dengan catatan ukuran makin ke atas makin kecil, dan tingkat 7,8,9, berdenah hampir bundar, diakhiri oleh stupa puncak yang besar. Secara keseluruhan candi Borobudur berbentuk stupa, tetapi mempunyai struktur berundak teras.
            Candi borobur pada bagian bawah jika dilihat dari atas berbentuk seperti kubus dengan catatan tidak mengerucut.  

Luas permukaan kubus.
Luas permukaan (L) kubus dengan panjang rusuk s adalah L= 6s2


F.     Metode Pembelajaran
Pendekatan materi      : Kontekstual
Metode pembelajaran  : LKS, diskusi, tanya jawab

G.    Media Pembelajaran
Papan tulis, contoh benda yang berbentuk kubus dan balok.

H.    Kegiatan Pembelajaran
a.       Kegiatan awal (5 menit)
·         Membuka pelajaran dengan salam dan berdoa bersama.
Appersepsi:
·         Siswa memberikan contoh-contoh benda riil dan ethnik yang ada di sekitar lingkungan sehari-hari siswa yang berkaitan dengan luas permukaan kubus.

b.      Kegiatan inti (15 menit)
·         Siswa membentuk beberapa kelompok, dimana setiap kelompok terdiri dari 3 orang.
·         Siswa berkumpul dengan kelompoknya dan mendiskusikan konstruksi dasar Candi Borobudur.
·         Setelah siswa menemukan konstruksi dasar Candi Borobudur, siswa mendiskusikan cara menemukan luas permukaannya.
·         Siswa menulis hasil diskusinya dalam kertas besar yang diberikan guru untuk mempresentasikan hasil diskusinya.
·         Kelompok yang presentasi dipilih secara acak melalui undian.

c.       Kegiatan penutup (5 menit)
·         Siswa membuat kesimpulan tentang luas permukaan kubus dan aplikasinya dalam konstruksi dasar Candi Borobudur.
·         Menutup pembelajaran dengan berdoa.
I.       Sumber
-          Endah Budi Rahayu, Dkk. 2008. Contextual Teaching and Leraning, Matematika Sekolah Menengah Pertama Kelas VII . Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional. ( hal 172 – hal 203)
-          Dewi Nuharini, Tri Wahyuni. 2008. Matematika, Konsep dan Aplikasinya 2. Jakarta : Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional. ( hal 208 – hal 222 )
-          Nuniek Avianti Agus. 2008. Mudah Belajar Matematika. Jakarta : Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional. ( hal 183 – hal 191 )

J.      Penilaian
1.      Teknik                         : tes tulis dan lisan
2.      Bentuk instrument       : Presentasi kelompok
REFERENCES:
Jama Musse Jama  on http://www.dm.unipi.it/~jama/ethno/  diakses pada tanggal 22 Mei 2012.
Weizhong Zhang, Qinqiong Zhang. 2010. Ethnomathematics and Its Integration within the Mathematics Curriculum. Journal of Mathematics Education  Vol. 3, No. 1, pp.151-157
_ . 1998. Ethnomathematics: an absolutely essential key for Mathematics Education. Granada (Spain) : First International Congress on Ethnomathematics

Kota Cirebon sangat kaya dengan gedung-gedung tua peninggalan jaman kolonial Belanda. Ini bisa dimaklumi karena lokasi strategis Kota Cirebon sebagai kota pelabuhan sangatlah penting artinya bagi roda perekonomian pemerintah kolonial Belanda. Semua gedung tua itu mungkin saat ini sudah berstatus Cagar Budaya yang dilindungi Undang-Undang RI Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya yang menyebutkan bahwa Gedung Bank Indonesia Cabang Cirebon termasuk sebagai benda cagar budaya yang berada di Cirebon dan dilindungi keberadaannya.
            Salah satu gedung tua di Kota Corebon adalah Gedung Bank Indonesia Cabang Cirebon yang terletak di Jalan Yos Sudarso, Cangkol, Lemahwungkuk, Cirebon.
            
            Gedung Bank Indonesia Cabang Cirebon dulunya adalah Kantor De Javasche Bank (DJB) Cabang Cirebon yang dibuka pada 31 Juli 1866 dan baru beroperasi tanggal 6 Agustus 1866 dengan nama Agentschap van De Javasche Bank te Cheribon. Pembukaan kantor cabang ini berdasarkan surat keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda No. 63 tanggal 31 Juli 1866 yang merupakan kantor cabang kelima. Empat kantor cabang yang telah dibuka terlebih dahulu yaitu: Semarang, Surabaya, Padang, dan Makasar. P.J. Janssens, Notaris di Cirebon ditunjuk sebagai pimpinan Kantor Cabang Cirebon pertama. Setiap tahun, P.J. Janssens memperoleh imbalan 25 % dari laba bersih minimal f 1.200. Dan sebagai komisaris dan wakil komisaris kantor cabang tersebut diangkat J.W. Peter Pemimpin Cabang Factor der Nederlansche Handel Maatschappij (kini menjadi BEII sebelum bergabung dengan Bank Mandiri) dan P. van Waasdjik. Peletakan batu pertama pembangunan gedung Kantor Cabang Cirebon yang terletak di Kampong Tjangkol No.5, dilakukan pada tanggal 21 September 1919 oleh Jan Marianus Gerritzen (anak Direktur M.J. Gerritzen). Perencanaan arsitektur gedung kantor tersebut dilakukan oleh Biro Arsitek F.D. Cuypers & Hulswit. Gedung ini selesai dibangun dan digunakan pada tanggal 22 Maret 1921. Dari catatan sejarah gedung ini dari awal hingga sekarang yang menjadi gedung Bank Indonesia tetap pada lokasi tersebut dan merupakan satu-satunya gedung Kantor Bank Indonesia yang hanya mempunyai satu kubah, sehingga tampak lebih ramping.
            Pada Desember 1949, Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia sebagai bagian dari Republik Indonesia Serikat (RIS). Pada saat itu, sesuai dengan keputusan Konferensi Meja Bundar (KMB), fungsi bank sentral tetap dipercayakan kepada De Javasche Bank (DJB). Pemerintahan RIS tidak berlangsung lama, karena pada tanggal 17 Agustus 1950, pemerintah RIS dibubarkan dan Indonesia kembali ke bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pada saat itu, kedudukan DJB tetap sebagai bank sirkulasi. Berakhirnya kesepakatan KMB ternyata telah mengobarkan semangat kebangsaan yang terwujud melalui gerakan nasionalisasi perekonomian Indonesia. Nasionalisasi pertama dilaksanakan terhadap DJB sebagai bank sirkulasi yang mempunyai peranan penting dalam menggerakkan roda perekonomian Indonesia. Sejak berlakunya Undang-undang Pokok Bank Indonesia pada tanggal 1 Juli 1953, bangsa Indonesia telah memiliki sebuah lembaga bank sentral dengan nama Bank Indonesia.
            Gedung peninggalan Belanda ini memiliki banyak potensi yang dapat dijabarkan sebagai berikut:
1.      Frequency
Seperti yang telah disebutkan di atas, dari awal pembangunan sampai sekarang gedung ini selalu digunkan sebagai bank sentral atau sirkulasi walaupun dengan nama yang berubah – ubah. Dan sekarang sebagai Gedung Bank Indonesia Cabang Cirebon.
2.      Distribute
Gedung Bank Indonesia Cabang Cirebon merupakan salah satu gedung kuno yang berada di Cirebon. Gedung ini juga merupakan benda cagar budaya di Cirebon yang dilindungi oleh Undang – Undang dan termasuk salah satu icon pariwisata di kota Cirebon. Banyak para wisatawan yang datang untuk melihat kekaguman bangunan yang dibuat pada masa pemerintahan Hindia Belanda ini yang sampai sekarang tetap berdiri kokoh dan megah.
3.      Foundation
Untuk masalah kegunaan bangunan ini tidak pernah berganti sejak awal pembangunan sampai sekarang yaitu sebagai kantor bank sentral. Hanya masalah nama saja yang berganti. Hal itu wajar mengikuti pemerintahan yang berlaku saat itu. Karena gedung ini dibangunan pada masa pemerintahan Hindia Belanda dan diberi nama De Javasche Bank (DJB) untuk Cabang Cirebon yang merpakan bank sirkulasi atau sentral pemerintahan Hindia Belanda. Tetapi setelah Indonesia merdeka, bank sental tersebut berubah nama menjadi Bank Indonesia yang berlaku sejak 1 Juli 1953 sesuai dengan Undang-undang Pokok Bank Indonesia sehingga sekarang gedung tersebut menjadi Gedung Bank Indonesia Cabang Cirebon.


4.      Extention
Sejarah tokoh pada pembangunannya adalah Jan Marianus Gerritzen sebagai peletak batu pertama pembangunan gedung. Sedangkan untuk perencanaan arsitektur gedung kantor tersebut dilakukan oleh Biro Arsitek F.D. Cuypers & Hulswit. P.J. Janssens adalah pimpinan Kantor De Javasche Bank (DJB) Cabang Cirebon yang pertama. Adapun untuk komisaris dan wakil komisaris kantor cabang tersebut diangkat J.W. Peter dan P. van Waasdjik.
5.      Interiority
Pertama gedung ini adalah Kantor De Javasche Bank (DJB) Cabang Cirebon dibawah pemerintahan Hindia Belanda. Tetapi sekarang menjadi Gedung Bank Indonesia Cabang Cirebon dibawah pemerintahan Republik Indonesia.
6.      Accountability
Untuk keterangan atau dokumen sejarah gedung ini dapat kita temukan pada website mesuem Bank Indonesia. Pemerintah Daerah Cirebon juga mempunyai dokumennya karena gedung ini merupakan benda cagar budaya yang berada di Cirebon.
7.      Sustainability
Karena dari awal pembangunan sampai sekarang gedung ini dijadikan sebagai kantor bank pemerintahan Indonesia maka sustainbility akan bangunan ini terus berjalan karena digunakan secara terus – menerus.  

“ETHNOMATEMATIKA dan MATEMATIKA SEKOLAH”


Nama   : Riana Sinta Dewi
NIM    : 09313244022
“ETHNOMATEMATIKA dan MATEMATIKA SEKOLAH”
            Kita belajar matematika tidak hanya dari sekolah saja, tetapi juga dari lingkungan yang dipengaruhi budaya. Ethnomatematika pertama kali diperkenalkan oleh D’Ambrosio (1984) dalam artikelnya berjudul Ethnomathematics yang disampaikan pada pembukaan konferensi internasional pendidikan matematika di Adelaide Australia, dan dalam jurnal (D’Ambrosio, 1985) berjudul Ethnomathematics and iits place in the history and pedagogy of mathematics. Ethnomathematics diperkenalkan untuk menyebut bentuk matematika yang berbeda dengan matematika sekolah sebagai akibat pengaruh kegiatan yang ada di lingkungan yang dipengaruhi oleh budaya. Tokoh Ethnomatematika yang lainnya adalah Terenzinha Nunes terkenal dengan Street Math atau matematika jalanan.
     Kedua tokoh ini memperkenalkan bahwa ada bentuk lain dari matematika yang sangat berbeda dengan matematika di sekolah yang dikenal dengan istilah “ethnomathematics”. Ethnomatematika dianggap sebagai bentuk matematika yang diakibatkan kegiatan di lingkungan yang dikelilingi pengaruh budaya. Tujuan dari penggunaan matematika di lingkungan yang dipengaruhi budaya berbeda dengan matematika di kelas yang penekananya pada belajar untuk mengetahui sesuatu (learning to know about), belajar melakukan (learning to do), belajar menjiwai (learning to be), belajar bagaimana seharusnya belajar (learning to learn), dan belajar bersosialisasi sesama teman (learning to live together).
            Penggunaan matematika di luar sekolah jelas berkaitan dengan lingkungan, misalnya membangun rumah, menukar uang di Bank, menimbang hasil produksi, menjual dan membeli barang, dan sebagainya. Penerapan matematika seperti ini sering sangat berbeda dengan matematika yang dipelajari di sekolah. Dalam kehidupan sehari-hari di rumah, di dapur ibu-ibu sering mengukur isi dengan sendok atau cangkir, sedangkan di sekolah mengukur isi secara khusus dengan liter atau meter kubik. Di samping itu matematika dalam kehidupan sehari-hari sering dijumpai berbeda antara daerah satu dengan lainnya misalnya dalam sistem numerasi atau alat-alat hitung yang digunakan. Dan hal itu dikarenakan adanya perbedaan ethnik atau cuture antara daerah satu dengan daerah lainnya.
            Matematika sekolah sendiri berbeda dengan matematika “ilmu” karena matematika sekolah membelajarkan anak tentang matematika sehingga diperlukannya pembeda antara keduanya. Ebutt dan Striker (Marsigit, 2003) mendefinisikan matematika sekolah, sebagai berikut:
1.      Matematika sebagai kegiatan penelusuran pola dan hubungan
            Sehingga implikasi dari pandangan ini terhadap pembelajaran adalah : (1) memberi kesempatan siswa untuk melakukan kegiatan penemuan dan penyelidikan pola-pola untuk menentukan hubungan, (2) memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan percobaan denga berbagai cara, (3) mendorong siswa untuk menemukan adanya urutan, perbedaan, perbandingan, pengelompokan, dsb, (4) mendorong siswa menarik kesimpulan umum, (5) membantu siswa memahami dan menemukan hubungan antara pengertian satu dengan yang lainnya.
2.      Matematika sebagai kreativitas yang memerlukan imajinasi, intuisi dan penemuan
            Sehingga implikasi dari pandangan ini terhadap pembelajaran adalah : (1) mendorong inisiatif dan memberikan kesempatan berpikir berbeda, (2) mendorong rasa ingin tahu, keinginan bertanya, kemampuan menyanggah dan kemampuan memperkirakan, (3) menghargai penemuan yang diluar perkiraan sebagai hal bermanfaat daripada menganggapnya sebagai kesalahan, (4) mendorong siswa menemukan struktur dan desain matematika, (5) mendorong siswa menghargai penemuan siswa yang lainnya, (6) mendorong siswa berfikir refleksif, dan (7) tidak menyarankan hanya menggunakan satu metode saja.
3.      Matematika sebagai kegiatan pemecahan masalah (problem solving)
            Sehingga implikasi dari pandangan ini terhadap pembelajaran adalah : (1) menyediakan lingkungan belajar matematika yang merangsang timbulnya persoalan matematika, (2) membantu siswa memecahkan persoalan matematika menggunakan caranya sendiri, (3) membantu siswa mengetahui informasi yang diperlukan untuk memecahkan persoalan matematika, (4) mendorong siswa untuk berpikir logis, konsisten, sistematis dan mengembangkan sistem dokumentasi/catatan, (5) mengembangkan kemampuan dan ketrampilan untuk memecahkan persoalan, (6) membantu siswa mengetahui bagaimana dan kapan menggunakan berbagai alat peraga/media pendidikan matematika seperti : jangka, kalkulator, dsb.
4.      Matematika sebagai alat berkomunikasi
            Sehingga implikasi dari pandangan ini terhadap pembelajaran adalah : (1) mendorong siswa mengenal sifat matematika, (2) mendorong siswa membuat contoh sifat matematika, (3) mendorong siswa menjelaskan sifat matematika, (4) mendorong siswa memberikan alasan perlunya kegiatan matematika, (5) mendorong siswa membicarakan persoalan matematika, (6) mendorong siswa membaca dan menulis matematika, (7) menghargai bahasa ibu siswa dalam membicarakan matematika.
           
            Ebutt dan Striker juga mendefinisikan karakter subjek didik agar dapat mengembangkan potensi peserta didik secara optimal (Marsigit, 2003), yaitu :
1.      Murid akan mempelajari matematika jika mereka mempunyai motivasi
            Sehingga implikasi pandangan ini bagi usaha guru adalah : (1) menyediakan kegiatan yang menyenangkan, (2) memperhatikan keinginan siswa, (3) membangun pengertian melalui apa yang ketahui oleh siswa, (4) menciptakan suasana kelas yang mendukung kegiatan belajar, (5) memberikan kegiatan yang sesuai dengan tujuan pembelajaran, (6) memberikan kegiatan yang menantang, (7) memberikan kegiatan yang memberikan harapan keberhasilan, (8) menghargai setiap pencapaian siswa.
2.      Murid mempelajari matematika dengan caranya sendiri
            Sehingga implikasi pandangan ini adalah: (1) siswa belajar dengan cara yang berbeda dan dengan kecepatan yang berbeda, (2) tiap siswa memerlukan pengalaman tersendiri yang terhubung dengan pengalamannya di waktu lampau, (3) tiap siswa mempunyai latar belakang sosial-ekonomi-budaya yang berbeda. Oleh karena itu guru perlu: (1) mengetahui kelebihan dan kekurangan para siswanya, (2) merencanakan kegiatan yang sesuai dengan tingkat kemampuan siswa, (3) membangun pengetahuan dan ketrampilan siswa baik yang dia peroleh di sekolah maupun di rumah, (4) menggunakan catatan kemajuan siswa (assessment).
3.      Murid mempelajari matematika baik secara mandiri maupun melalui kerja sama dengan temannya
            Sehingga implikasi pandangan ini bagi usaha guru adalah: (1) memberikan kesempatan belajar dalam kelompok untuk melatih kerjasama, (2) memberikan kesempatan belajar secara klasikal untuk memberi kesempatan saling bertukar gagasan, (3) memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan kegiatannya secara mandiri, (4) melibatkan siswa dalam pengambilan keputusan tentang kegiatan yang akan dilakukannya, dan (5) mengajarkan bagaimana cara mempelajari matematika.


4.      Murid memerlukan konteks dan situasi yang berbeda-beda dalam mempelajari matematika
            Sehingga implikasi pandangan ini bagi usaha guru adalah: (1) menyediakan dan menggunakan berbagai alat peraga, (2) memberi kesempatan belajar matematika di berbagai tempat dan keadaan, (3) memberikan kesempatan menggunakan matematika untuk berbagai keperluan, (4) mengembangkan sikap menggunakan matematika sebagai alat untuk memecahkan problematika baik di sekolah maupun di rumah, (5) menghargai sumbangan tradisi, budaya dan seni dalam pengembangan matematika, dan (6) membantu siswa menilai sendiri kegiatan matematikanya.

            Dengan melihat karakteristik siswa belajar matematika kita dapat menghubungkan matematika sekolah dengan ethnomatematika. Karena ternyata dengan menghubungkan matematika dan kehidupan sehari – hari siswa (sebagai konteks) maka siswa akan lebih mudah menerima pembelajaran dan lebih termotivasi. Siswa juga dapat mempelajari matematika dengan caranya sendiri sehingga matematika akan berbekas dengan sendirinya karena matematika ada di lingkungan sekitarnya.
Referensi:
Douglass A. Groows, A.D, (1992).  Handbook of Research on Mathematics Teaching and Learning .New York tahun: Macmillan
Marsigit. 2003. Pembelajaran Matematika Berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi Di Smk. Disampaikan Pada Penataran Kurikulum Matematika Berbasis Kompetensi Untuk SMK
di BPG Yogyakarta.